Da’i Meninggal Dunia Saat Berdakwah/Tabligh


Seorang da’i / mubaligh meninggal dunia – insya Allah khusnul khatimah – ketika sedang bertabligh di tengah-tengah para jamaah masjid yang sedang mendengarkan ceramah beliau:

Meninggal Dunia Ketika Sujud Di Masjid Nabawi Madinah


Semoga beliau wafat khusnul khotimah. Inilah orang yang meninggal dunia ketika sedang sujud di Masjid Nabawi Madinah:

Keutamaan I’tikaf – Hadits Ke-4


Keutamaan I’tikaf – Hadits Ke-4

Dari Ibnu Abbas r.a., ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya surga itu wangi dan dihiasi dari tahun ke tahun untuk menyambut bulan Ramadhan. Bila malam pertama pada bulan Ramadhan datang, maka akan bertiup angin dari bawah ‘Arsy, yang disebut angin al-Mutsirah. Maka daun-daun di pepohonan surga bergesekan, juga gagang daun-daun pintu, sehingga menimbulkan dengungan suara yang sangat merdu yang belum pernah didengar oleh pendengar sebelumnya. Lalu muncullah para bidadari berdiri di halaman surga, lalu mereka menyeru, “Adakah orang yang melamar kepada Allah agar Dia mengawinkan aku dengannya?” Lalu bidadari itu berkata, “Ya Ridwan (penjaga surga), malam apakah ini?” Maka Ridwan menjawab mereka dengan talbiyah, ia berkata, “Ini malam pertama bulan Ramadhan.” Maka pintu-pintu surga dibuka untuk orang-orang yang berpuasa dari umat Muhammad. Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga; dan wahai Malik, tutuplah pintu-pintu neraka bagi orang-orang yang berpuasa dari umat Muhammad. Wahai jibril, turunlah ke bumi. Rantailah syaitan-syaitan dan belenggulah mereka dengan rantai. Lalu lemparkanlah mereka ke dalam lautan agar tidak mengganggu puasa umat Muhammad, kekasih-Ku.” Beliau bersabda, “Allah Azza Wa Jalla berfirman pada setiap malam di bulan Ramadhan kepada seorang penyeru agar menyeru tiga kali, “Adakah orang yang memohon? Maka akan Aku penuhi permohonan-nya. Adakah orang yang bertaubat? Maka akan Aku terima taubatnya. Dan adakah orang yang meminta ampunan? Maka Aku akan mengampuninya. Dan barangsiapa yang memberi pinjaman kepada Dzat Yang Mahakaya, maka ia tidak akan mengalami kekurangan, dan Dialah Dzat Yang memenuhi janji tanpa menganiaya.” Beliau bersabda, “Setiap hari pada bulan Ramadhan, yaitu saat berbuka puasa, Allah akan membebaskan sejuta ruh dari neraka yang telah diwajibkan masuk neraka. Dan pada hari terakhir bulan Ramadhan, maka Allah akan membebaskan ruh sebanyak yang telah Dia bebaskan dari awal hingga akhir Ramadhan. Dan bila tiba malam Lailatul-Qadar, Allah akan memerintahkan Jibril turun ke bumi bersama serombongan malaikat yang membawa bendera hijau dan menancapkan bendera itu di puncak Ka’bah. Malaikat Jibril memiliki seratus sayap, dua sayap di antaranya tidak pernah dibentangkan kecuali pada malam itu. Lalu ia membentangkan kedua sayapnya itu pada malam tersebut, sehingga meliputi Timur dan Barat. Lalu Jibril mengerahkan para malaikat agar memberi salam kepada setiap orang yang sedang berdiri, duduk, shalat, dan berdzikir. Para malaikat akan berjabat tangan dengan mereka dan mengamini doa-doa mereka hingga terbit fajar. Apabila fajar terbit, Jibril menyeru para malaikat, “Wahai para malaikat, berpencarlah!” Para malaikat bertanya, “Wahai Jibril, apa yang akan Allah perbuat, apakah sehubungan dengan hajat-hajat orang-orang mukmin dari umat Muhammad?” Jibril berkata, “Allah memandang mereka pada malam ini dan mengampuni mereka kecuali empat golongan manusia.” Maka kami (sahabat r.a.) bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah mereka itu?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang yang meminum arak, orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, orang yang memutuskan tali silaturahim dan yang memusuhi.” Kami bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang memusuhi itu?” Sabda beliau, “Yaitu orang yang membenci dan memutuskan persaudaraannya.” Jika malam hari raya tiba, maka malam itu dinamakan malam Jaizah (malam penerimaan hadiah). Lalu ketika tiba hari raya Fitri pada esok harinya, maka Allah mengutus para malaikat ke setiap negeri dan turun ke bumi. Mereka memenuhi tiap-tiap gang dan menyeru dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk Allah kecuali jin dan manusia. Mereka berkata, “Wahai umat Muhammad, keluarlah menuju Tuhan Yang Mahamulia, Yang akan mengaruniakan hadiah dan mengampuni dosa-dosamu yang besar. Apabila mereka datang ke mushalla mereka, maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada para malaikat, “Apakah balasan bagi seorang pekerja apabila telah menyelesaikan pekerjaannya?” Sabda beliau, “Para malaikat berkata, ‘Wahai Rabb kami, balasannya adalah upah sepenuhnya.’” Beliau bersabda, “Maka Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku jadikan kalian sebagai saksi wahai para malaikat-Ku, bahwa sesungguhnya Aku telah memberikan ridha dan ampunan-Ku sebagai balasan kepada mereka karena puasa mereka pada bulan Ramadhan, dan karena shalat Tarawih mereka. Lalu Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku. Mohonlah kepada-Ku, maka demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, tidaklah kamu meminta sesuatu kepada-Ku di pertemuan ini untuk akhiratmu kecuali Aku akan memberimu. Dan tidak juga untuk keperluan duniamu kecuali Aku akan memandang maslahatmu. Maka demi kemuliaan-Ku, sungguh akan Aku tutupi kesalahan-kesalahanmu selama kamu takut kepada-Ku. Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menghinakanmu dan tidak akan Aku perlihatkan aib-aibmu di depan orang-orang yang melanggar batas. Bertebaranlah kalian dengan membawa ampunan. Sungguh kalian telah ridha kepada-Ku, dan Aku pun ridha kepada kalian.” Para malaikat pun merasa senang dan bersuka cita, karena Allah Azza Wa Jalla telah memberi karunia kepada umat ini, pada saat mereka sedang berhari raya Fitri setelah Ramadhan.” (H.R. Ibnu Hibban, Baihaqi).

Ya Allah, jadikanlah kami sebagian dari mereka.

Faedah

Sebagian besar kandungan hadits di atas telah diterangkan di dalam hadits-hadits sebelumnya. Walaupun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Yang pertama dan sangat penting adalah, banyak orang yang dikecualikan dari mendapatkan maghfirah pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang telah diceritakan dalam hadits sebelumnya, bahkan banyak pula yang tidak memperoleh ampunan-Nya pada hari Idul-Fitri. Di antaranya adalah orang-orang yang bertengkar dan orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya. Barangkali kita dapat bertanya kepada mereka, “Setelah kalian berbuat sesuatu yang dimurkai Allah, maka siapakah yang dapat melindungi kalian sekarang? Betapa rugi diri kalian, hanya demi kepentingan harga diri, kalian telah menggunakan cara dan jalan berpikir yang keliru, sehingga menjadikan diri kalian sebagai sasaran laknat Rasulullah saw. dan Jibril, bahkan kalian rela terjauh dari rahmat Allah yang berlimpah. Saya bertanya, sampai kapankah penentangan dan kesombongan akan bertahan pada diri kalian? Padahal Rasulullah saw. sedang melaknat kalian, dan Jibril sebagai malaikat yang paling dekat dengan Allah juga sedang mendoakan keburukan untuk kalian, dan Allah sedang mengeluarkan kalian dari rahmat-Nya. Saya menghimbau kalian, pikirkanlah keadaan kalian karena Allah, dan berhentilah. Hari ini masih ada kesempatan, esok kalian harus berdiri di hadapan Mahahakim. Di hadapan-Nya, pangkat, kehormatan, kedudukan, atau harta kalian tidak akan ditanya, tetapi yang ditanya hanyalah amal perbuatan kalian di dunia ini, yang semuanya telah tercatat dan akan dihadapkan kepada-Nya. Allah akan mengampuni hamba-Nya yang mengabaikan hak-hak-Nya, tetapi kezhaliman atas hak dan kewajiban terhadap sesama tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada penuntutan terhadapnya. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang bangkrut di antara umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa amal-amal shalih seperti shalat, puasa, zakat, sedekah, dan amalan lainnya. Namun karena ia pernah menghina, memaki, membicarakan aib, dan memukul orang lain, mereka akan datang dan menuntutnya, sehingga amal-amal shalihnya akan diberikan kepada orang yang disakitinya sebagai ganti atas perbuatannya. Bahkan jika persediaan amal baiknya telah habis, maka dosa-dosa orang-orang yang pernah disakiti olehnya akan dibebankan kepadanya. Akhirnya ia akan dimasukkan ke neraka Jahanam. Walaupun amal shalihnya banyak, tidak perlu diceritakan lagi betapa menyesalnya dan betapa berputus asanya ia.

Kedua: Yang patut direnungkan di sini adalah mengenai beberapa kesempatan untuk memperoleh maghfirah Allah. Selain masalah-masalah di atas, masih banyak penyebab turunnya maghfirah Allah. Sekali ampunan telah diberikan, apalah artinya ampunan berikutnya. Jawabannya, bahwa kaidah ampunan adalah apabila ampunan telah diberikan oleh Allah kepada seseorang yang berdosa, maka dosa orang tersebut akan dihapuskan. Namun apabila ampunan itu dikaruniakan kepada seseorang yang tidak berdosa, maka itulah limpahan kasih sayang dan rahmat Allah kepada orang tersebut.

Ketiga: Hadits di atas menyebutkan bahwa ketika Allah mengaruniakan ampunan kepada hamba-Nya, Dia menjadikan para malaikat sebagai saksi. Hal ini disebabkan keadilan dan mu’amalah yang akan berlangsung pada hari Kiamat adalah berdasarkan ketetapan yang pasti. Allah juga akan menuntut kesaksian akan dakwah para Anbiya dan Rasul a.s.. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw. sering bersabda, “Sesungguhnya kalian akan ditanya mengenaiku, maka bersaksilah bahwa aku telah menyampaikan risalah agama ini kepada kalian.” Di dalam Bukhari disebutkan bahwa pada hari Kiamat, Nabi Nuh a.s. akan dipanggil dan ditanya, “Apakah engkau telah menyampaikan risalahmu dan hukum-hukum Kami dengan benar?” Beliau menjawab, “Ya, telah aku sampaikan.” Kemudian umat Nuh a.s. dipanggil, lalu ditanyakan kepada mereka, “Benarkah ia (Nabi Nuh a.s.) telah menyampaikan risalahnya kepada kalian?” Jawab mereka:

“Tidak datang kepada kami seorang pembawa berita baik atau seorang pemberi peringatan.”

Maka dikatakan kepada Nuh a.s. “Datangkanlah saksi-saksimu.” Kemudian beliau akan memanggil Nabi Muhammad saw. beserta umatnya. Umat ini akan memberi kesaksian atas dakwah Nabi Nuh a.s.. Hadits lain menyebutkan bahwa setelah umat ini bersaksi, maka mereka ditanya, “Bagaimana kalian mengetahui bahwa Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan hukum Kami kepada umatnya?” Umat ini menjawab, “Nabi kami (Muhammad saw.) telah menberitahukan kepada kami tentang hal itu. Dan perkara ini pun telah diberitakan di dalam kitab suci yang diturunkan kepada Rasul kami.” Demikianlah yang akan terjadi pada semua umat Nabi-nabi lainnya. Mengenai hal ini, Al-Quranul-Karim menyebutkan:

“Dan demikianlah (pula) Kami telah menjadikanmu (umat Islam) umat penengah dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.”

Imam Fakhruddin Ar-Razi rah.a. telah menulis bahwa pada hari Kiamat nanti akan ada empat macam saksi:

1. Malaikat. Al-Quran menyatakan:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaaf: 18).

“Dan datanglah tiap-tiap diri bersama seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi.” (Q.S. Qaaf: 21).

“Padahal sesungguhnya bagimu ada (para malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang menulis (pekerjaan-pekerjaan itu).” (Q.S. al-Infithar: 12).

2. Para Nabi a.s. Al-Quran menyatakan:

“Dan adalah aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka.” (Q.S. al-Maidah: 117).

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkanmu (Muhammad saw.) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (Q.S. An-Nisa’: 41).

3. Umat Muhammad saw. Allah swt. berfirman:

“Para Nabi dan para saksi akan diajukan.” (Q.S. Az-Zumar: 69).

4. Anggota badan masing-masing manusia. Al-Quran menyatakan:

“Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka….” (Q.S. An-Nuur: 20).

“Pada hari ini Kami menutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. Yaasin: 65).

Pendek kata, semua ayat di atas merupakan bukti bahwa keempat makhluk tersebut akan menjadi saksi pada hari Kiamat. Keterangan mengenai hal ini telah saya kutip sebelumnya. Hak keempat yang disebutkan di dalam hadits di atas adalah mengenai kabar gembira bahwa Allah berfirman, “Aku tidak akan menghinakanmu di hadapan orang-orang kafir.” Ini merupakan karunia Allah terhadap umat ini. Dan bagi kaum muslimin yang mendambakan ridha Allah tentu akan merasakan hal ini sebagai suatu kelembutan dan kenikmatan dari Allah. Dan Allah juga akan menyembunyikan aib-aib hamba-Nya dari pandangan orang lain.

Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari Kiamat kelak, Allah akan memanggil seorang yang beriman di sisi-Nya, lalu Dia akan menutupkan tirai di kepalanya sehingga tidak seorang pun dapat melihat wajahnya. Kemudian Allah akan mengingatkan semua kemaksiatan dan kezhaliman yang telah dikerjakannya sehingga setiap dosa yang dilakukannya diakuinya. Dan ia merasa pasti akan binasa karena dosa-dosanya. Kemudian Allah berfirman, “Di dunia Aku telah menutupi aib-aibmu dan sekarang pun Aku akan menyembunyikan aib-aibmu dan mengampunimu.” Lalu catatan amal baiknya akan diberikan kepadanya.

Dari kandungan hadits-hadits lainnya dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang giat berusaha mencari ridha Allah dengan mentaati perintah-Nya, maka dosa-dosa mereka akan diampuni oleh Allah swt.. Dengan demikian, siapa pun hendaknya memahami hal ini dengan benar, sehingga kita berhati-hati agar tidak membicarakan aib orang lain, terutama orang yang dekat dengan Allah (para Auliya Allah). Dengan sebab keshalihan mereka, pada hari Kiamat nanti segala dosa mereka akan diampuni dan ditutupi oleh Allah. Namun, disebabkan ghibah yang kita lakukan, justru catatan amal kita menjadi hancur. Semoga Allah dengan rahmat-Nya mengampuni kita semua.

Masalah kelima di dalam hadits di atas adalah bahwa malam sebelum Idul-Fitri disebut sebagai malam jaizah (pemberian hadiah), yaitu malam ketika Allah memberikan berbagai nikmat kepada hamba-hamba-Nya. Sebenarnya, malam tersebut merupakan kesempatan yang jarang ditemui. Kebanyakan di antara kita, baik masyarakat awam ataupun terpelajar, karena sibuk mempersiapkan hari Raya, yang tersisa pada malam itu hanyalah letih dan kantuk. Padahal, malam itu adalah malam yang sangat berharga untuk beribadah. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bangun menyibukkan diri beribadah pada kedua malam Id (Fitri dan Adha) semata-mata untuk memperoleh pahala, maka hatinya pada hari itu tidak mati ketika hati manusia mati.” Hal ini bermakna bahwa pada saat berbagai fitnah dan kemaksiatan menguasai hati manusia sehingga hati manusia mati, namun hati orang yang sibuk beribadah kepada Allah swt. akan tetap hidup. Dapat juga diartikan bahwa ketika sangkakala ditiup pada hari Kiamat, maka pada saat itu ruhnya tetap sadar ketika orang lain tidak sadar. Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa bangun untuk beribadah pada lima malam berikut ini semata-mata karena Allah, maka ia wajib memasuki surga, yaitu:

1. Lailatut-Tarwiyah (pada malam 8 Dzulhijjah),

2. Lailatul- Arafah (pada malam 9 Dzulhijjah),

3. Lailatun- Nahr (pada malam 10 Dzulhijjah),

4. Lailatul-Idul-Fitri (pada malam 1 Syawwal),

5. Lailatul-Bara’ah (pada malam 15 Sya’ban).

Para fuqaha menyatakan bahwa sangat dianjurkan (sunnah, mustahab) beribadah pada kedua malam Id (Fitri dan Adha). Disebutkan di dalam Maa tsabata bis Sunnah, dari Imam Syafi’i rah.a. bahwa ada lima malam saat doa-doa dikabulkan, yaitu malam Jum’at, dua malam Id, malam permulaan bulan Rajab, dan malam ke-15 Sya’ban.

Faedah

Sebagian masyaikh berkata bahwa karena begitu mulia dan istimewa malam Jum’at pada bulan Ramadhan, kita hendaknya menghabiskan malam tersebut untuk beribadah. Hari Jum’at atau malam Jum’at adalah saat-saat yang penuh dengan keberkahan. Beberapa hadits telah menerangkan tentang banyaknya keistimewaan malam Jum’at, namun terdapat juga hadits yang berisi larangan untuk mengkhususkan beribadah pada malam Jum’at saja. Oleh sebab itu, sebaiknya selain malam Jum’at diikuti juga dengan ibadah pada satu atau dua malam lainnya.

Sebagai penutup, saya mengharap kepada para pembaca agar berdoa untuk diri sendiri, juga sertakanlah diri saya dalam doa Anda pada masa-masa tertentu pada bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini.

Apa sulitnya bagi Yang Mahamulia

Dengan keikhlasan doa,

Dia akan melimpahkan keridhaan dan kasih sayang-Nya.

Muhammad Zakariyya Al Khandhalawi

Basti Hazrat Nizhamuddin, Delhi, India.

Malam 27 Ramadhan 1349 H.

Keutamaan Khasiat Fadhilah I’tikaf – Hadits Ke-3


Keutamaan I’tikaf – Hadits Ke-3

Dari Ibnu Abbas r.a., bahwa ia sedang beri’tikaf di masjid Rasulullah saw.. Lalu seseorang datang dan memberi salam kepadanya, kemudian ia duduk. Ibnu Abbas r.a. bertanya, “Wahai Fulan, aku melihatmu sedang bersedih.” “Benar wahai putra paman Rasulullah, aku punya tanggungan utang kepada si Fulan. Demi kemuliaan penghuni kubur ini (kubur Nabi saw.), aku belum sanggup melunasinya,” jawab orang itu. Ibnu Abbas berkata, ”Bolehkah aku berbicara kepadanya mengenai dirimu?” Jawabnya, ”Baik, jika engkau besedia.” Maka Ibnu Abbas segera mengenakan sandalnya dan keluar dari masjid. Orang itu menegurnya, “Apakah engkau lupa bahwa engkau sedang beri’tikaf?” Ibnu Abbas dengan berlinang air mata berkata, “Tidak, sesungguhnya aku telah mendengar penghuni kubur ini (Rasulullah saw.) bersabda dan masih segar dalam ingatanku bahwa barangsiapa yang pergi demi menunaikan hajat saudaranya dan sungguh-sungguh berusaha, maka itu lebih baik baginya dari pada i’tikaf sepuluh tahun. Dan barangsiapa i’tikaf sehari karena mengharap ridha Allah, maka Allah akan menjauhkan antara dirinya dan api neraka sejauh tiga parit. Dan jarak keduanya lebih jauh daripada jarak bumi dan langit.” (H.R. Thabrani).

Faedah

Terdapat dua masalah yang dapat diketahui dari hadits ini:

1. Dengan beri’tikaf sehari akan dijauhkan Allah dari neraka Jahannam sejauh tiga parit. Dan jarak satu parit itu lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi. Bertambah hari seseorang beri’tikaf, maka akan bertambah pula pahalanya. Di dalam Kasyful-Ghummah, Allamah Sya’rani rah.a. meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah saw. bersabda. “Barangsiapa beri’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka baginya dua pahala haji dan umrah. Dan barangsiapa yang beri’tikaf setelah berjamaah shalat Maghrib sampai Isya tanpa berbicara apa pun kecuali shalat sunnah dan membaca Al-Quran, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah istana di surga.”

2. Yang lebih penting daripada yang pertama adalah bahwa menunaikan hajat sesama muslim itu lebih besar pahalanya daripada sepuluh tahun i’tikaf. Atas dasar inilah Ibnu Abbas r.a. menghentikan i’tikafnya, karena kemudian ia dapat melanjutkannya.

Para ahli sufi berkata bahwa Allah sangat mencintai hati yang hancur. Kecintaan-Nya itu tidak seperti kecintaan-Nya kepada yang lain. Oleh sebab itu, banyak hadits yang menganjurkan agar berhati-hati dari doa orang yang dizhalimi, karena hati mereka hancur. Apabila Nabi saw. mengangkat seseorang menjadi hakim di suatu wilayah, beliau akan menasihatinya, “Takutlah terhadap doa orang-orang yang dizhalimi.” Ada suatu hal penting yang mesti diperhatikan di sini, bahwa orang yang beri’tikaf akan batal bila meninggalkan masjid sekalipun untuk menolong saudara muslimnya. Apabila i’tikaf tersebut adalah i’tikaf wajib, maka i’tikaf itu mesti diqadha. Nabi saw. juga tidak pernah meninggalkan masjid kecuali untuk buang hajat atau berwudhu. Mengenai Ibnu Abbas r.a. yang meninggalkan i’tikafnya demi menolong sahabatnya, sama seperti kejadian dalam pertempuran, yaitu sahabat yang kehausan yang hampir mengakibatkan kematiannya, namun ia tidak meminum air yang disediakan untuknya, karena di sebelahnya ada seorang sahabat yang terluka yang juga dalam kehausan. Ia mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Mungkin, ketika itu Ibnu Abbas r.a. sedang beri’tikaf nafil sehingga dibolehkan menghentikan i’tikafnya. Dalam penutup risalah ini akan saya kutip sebuah hadits panjang yang berisi tentang keutamaan Ramadhan.

Keutamaan Fadhilah Khasiat Qur’an – Hadits Ke-20


Khasiat Qur’an – Hadits Ke-20

Dari Aisyah r.ha., Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya setiap kaum memiliki kemuliaan yang mereka banggakan. Sesungguhnya kebanggaan bagi umatku dan kemuliaannya adalah Al-Quran.” (Abu Nuaim – Al-Hilyah).

Faedah

Banyak orang yang membanggakan keturunan, keluarga, dan sebagainya sebagai kebesaran dan kemuliaan mereka. Sedangkan kebanggaan bagi umat ini adalah Al-Quran, yaitu membaca, menghafal, mengajarkan, dan mengamalkannya. Setiap amalannya merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Betapa tidak, Al-Quran adalah kalam Kekasih kita. Al-Quran adalah firman Allah yang di dunia ini tidak ada satu kebesaran pun yang dapat menyamainya. Sedangkan kehebatan dunia, jika tidak sekarang, pada suatu ketika pasti akan binasa juga. Sedangkan kesempurnaan Kalamullah tidak akan binasa selamanya, bahkan apa pun yang dipandang kecil di dalam Al-Quran tetap dapat dibanggakan karena kesempurnaannya seperti keindahan susunan dan paduan kata, penyesuaian kata, hubungan antarkalimat, berita tentang kejadian-kejadian pada masa lalu dan yang akan datang, pernyataannya terhadap tingkah laku manusia yang tidak mungkin bisa dipungkiri, misalnya kisah kaum Yahudi yang menyatakan cintanya kepada Allah tetapi enggan mati. Selain itu, pendengar akan terpesona dan pembacanya tidak akan bosan membacanya. Setiap susunan kata akan menimbulkan rasa cinta. Seindah apa pun surat seseorang yang kita cintai hingga membuat kita mabuk cinta, kita akan bosan setelah membacanya sepuluh kali. Jika tidak, mungkin pada yang kedua puluh atau yang keempat puluh kali. Bagaimanapun juga, ia pasti akan bosan. Sedangkan Al-Quran, jika kita menghafal satu ‘ain, kita tidak akan bosan membacanya, walaupun untuk kedua ratus atau keempat ratus kalinya, bahkan selama hidup kita, kita tidak akan merasa bosan. Jika ada sesuatu yang menghalangi kita, itu hanya bersifat sementara dan pasti akan hilang. Semakin sering membacanyaakan semakin lezat dan nikmat. Begitu hebatnya keistimewaan Al-Quran sehingga seandainya ada perkataan selain Al-Quran yang memiliki satu saja (walaupun tidak seluruhnya) dari keistimewaan tersebut, betapa dibanggakannya. Apalagi jika seluruhnya, tentu akan lebih membanggakan.

Sekarang marilah kita memikirkan diri kita, berapa banyakkah di antara kita yang merasa bangga sebagai hafizh Al-Quran, dan berapa banyak di antara kita yang menghormati dan bangga terhadap hafizh Al-Quran? Kita masih merasa bangga dengan gelar dan pangkat yang tinggi, padahal setelah meninggal dunia nanti, semua itu akan kita tinggalkan. Kepada Allahlah kita mengadu.

Keutamaan Khasiat Fadhilah I’tikaf – Hadits Ke-2


Keutamaan I’tikaf – Hadits Ke-2

Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah saw. bersabda mengenai orang yang beri’tikaf, bahwa (dengan beri’tikaf) ia melepaskan dosa-dosa dan akan diberi pahala sebagaimana orang yang berbuat kebaikan seluruhnya.” (H.R. Ibnu Majah- Misykat).

Faedah

Dalam hadits di atas disebutkan ada dua manfaat khusus dalam i’tikaf: Dengan i’tikaf, seseorang akan terjaga dari perbuatan maksiat, karena baik disengaja atau tidak, terkadang seseorang terjerumus ke dalam dosa. Sedangkan pada bulan yang penuh berkah ini, kemaksiatan adalah kezhaliman yang tidak terkira besarnya. Dengan beri’tikaf, seseorang dapat terhindar dari segala godaan untuk berbuat dosa.

Secara lahiriah, orang yang beri’tikaf terlihat rugi karena tidak dapat mengerjakan amal lainnya seperti mengantar jenazah, menjenguk orang sakit, dan sebagainya. Oleh sebab itu, hadits di atas menyatakan bahwa kebaikan yang biasa dilakukan dan terhalang karena i’tikaf, maka pahala amalan tersebut akan terus diperolehinya.

Mahabesar Allah. Betapa besar karunia Allah terhadap kita. Dengan sebuah amalan, seseorang dapat memperoleh sepuluh pahala ibadah lainnya. Pada hakikatnya, rahmat Allah sangat luas tidak terbatas. Dengan sedikit tawajuh dan berdoa, rahmat-Nya akan tercurah laksana hujan kepada kita. Sayang, kita sangat melalaikannya dan tidak mempedulikan pentingnya i’tikaf. Untuk siapakah dan untuk apakah kita memperhatikannya? Hal itu disebabkan keagungan dan kemuliaan agama telah tercabut dari hati kita.

Keutamaan Fadhilah Khasiat Qur’an – Hadits Ke-19


Khasiat Qur’an – Hadits Ke-19

Dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air.” Tanya sahabat, “Ya Rasulullah, apakah pembersihnya?” Sabda beliau, ”Banyak mengingat maut dan membaca Al-Quran.” (Baihaqi).

Faedah

Banyak berbuat dosa dan lalai dari dzikrullah menyebabkan hati berkarat seperti besi yang berkarat bila terkena air. Dengan tilawat Al-Quran dan mengingat maut, hati menjadi bersinar kembali. Hati diibaratkan cermin, semakin kotor semakin redup sinar ma’rifat yang dipantulkannya. Sebaliknya, semakin bersih cermin itu, semakin terang memantulkan sinar ma’rifat. Oleh sebab itu, barangsiapa terperosok dalam godaan nafsu maksiat dan tipu daya syaitan, maka akan terjauh dari ma’rifatullah. Untuk membersihkan hati yang kotor, para ulama suluk (tasawuf) menganjurkan agar melakukan mujahadah dan riyadhah, dzikrullah, dan sibuk beribadah.

Disebutkan dalam beberapa hadits bahwa jika seorang hamba berbuat dosa, maka timbul satu titik hitam di hatinya. Jika ia sungguh-sungguh bertaubat, maka titik hitam itu akan hilang. Sebaliknya, jika ia melakukan dosa lainnya, maka akan muncul titik hitam lainnya, dan demikianlah seterusnya. Jika dosa yang telah dilakukannya begitu banyak, maka hati akan menjadi hitam sehingga hilanglah keinginannya terhadap kebaikan. Bahkan hati selalu condong ke arah kejahatan. Semoga Allah menjaga diri kita dari hal yang demikian. Al-Quran telah menyebutkan tentang hal ini dalam ayat:

“Sekali-kali tidak; sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Q.s. Al-Muthafifin :14).

Rasulullah saw. bersabda, ”Aku tinggalkan padamu dua nasihat, yang satu berbicara, dan yang lain diam. Yang berbicara adalah Al-Quran, dan yang diam adalah mengingat maut.” Nasihat-nasihat beliau itu akan bernilai bagi mereka yang siap menerima dan menganggapnya penting. Sedangkan bagi mereka yang menilai bahwa agama itu tidak berharga dan hanya menghalangi kemajuan, tentu ia tidak akan mempedulikan nasihat tersebut, apalagi mengamalkannya. Hasan Basri rah.a. berkata, “Orang-orang dahulu memahami Al-Quran itu sebagai firman Allah. Sepanjang malam mereka bertafakkur dan bertadabbur terhadap Al-Quran, dan sepanjang siang mereka sibuk mengamalkannya. Sedangkan kalian hanya memperhatikan huruf, fathah, dan dhamahnya, tanpa menganggapnya sebagai firman Allah, sehingga tidak bertafakkur dan bertadabbur terhadapnya.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: