Tentang Tabligh


Setelah memuji Allah dan memanjatkan shalawat ke atas Rasulullah saw., saya bersyukur kepada-Nya yang telah mengizinkan saya menyusun Risalah Tabligh ini. Seorang alim besar dan mujaddid Islam pada zaman ini meminta saya untuk menuliskan beberapa ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi saw. mengenai pentingnya tabligh dalam Islam secara ringkas. Oleh sebab itu, dengan mengharap ridha Allah swt. dan untuk menyenangkan hati ulama tersebut, serta mengharap kebaikan dan ampunan dosa, saya memberanikan diri untuk berkhidmat dalam penulisan risalah ini. Saya memohon kepada seluruh pesantren, organisasi-organisasi Islam, partai-partai Islam, sekolah-sekolah Islam, bahkan kepada seluruh kaum muslimin pada masa ini agar bersedia meluangkan sebagian waktunya untuk berkhidmat dalam mentablighkan agama ini.

Dewasa ini, Islam bukan saja dibinasakan oleh orang-orang kafir, tetapi juga oleh kita sendiri. Seluruh amalan wajib atau sunah bukan hanya ditinggalkan oleh umat Islam yang awam, tetapi juga oleh para tokoh agama. Kita sering membicarakan orang-orang yang meninggalkan shalat dan puasa, padahal berjuta-juta manusia terjerumus dalam jurang kemusyrikan dan kekufuran. Dan yang lebih parah lagi, mereka tidak memahami bahwa apa yang mereka kerjakan merupakan kemusyrikan dan kekufuran. Perbuatan haram, fasik, dan kejahatan, secara terang-terangan telah meningkat dengan pesat, tidak ada lagi yang tersembunyi di depan kita. Tidak mempedulikan agama, menghinanya, dan meremehkannya sudah bukan rahasia lagi bagi siapa saja.

Melihat keadaan seperti ini; sebagian, bahkan hampir seluruh alim ulama, semakin menjauhkan diri dari masyarakat. Akibatnya, kejahilan agama semakin meningkat setiap hari. Masyarakat awam sering beralasan bahwa tidak ada lagi orang yang bersedia mengajarkan agama kepada mereka. Sebaliknya, alim ulama juga beralasan bahwa tidak ada lagi orang yang mau mendengarkan ajaran agama. Sebenarnya, alasan masyarakat awam tersebut tidak diterima di sisi Allah swt.  karena mempelajari agama dan mendalaminya merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dalam peraturan pemerintah mana pun, jika seseorang melakukan suatu pelanggaran, ia tidak dapat beralasan bahwa ia tidak mengetahui undang-undang pemerintah, sehingga ia tetap dianggap melanggar. Lalu bagaimana dengan hukum Allah sebagai Ahkamul-Hakimin? Tentu kejahilan kita terhadap hukum Allah merupakan dosa yang lebih besar daripada dosa-dosa lainnya. Begitu pula alasan alim ulama bahwa tidak ada lagi orang yang mau mendengarkan ajaran agama. Semua ini tidak patut dijadikan alasan untuk meninggalkan dakwah selama mereka mengaku sebagai da’i dan penerus perjuangan Nabi saw.. Apakah Nabi saw., para sahabat r.a., para tabi’in, dan orang-orang mulia lainnya tidak pernah bersusah payah dalam mentablighkan agama Islam? Apakah mereka tidak pernah dilempari batu? Tidak pernah dicaci-maki? Tidak pernah disiksa? Sebaliknya, walaupun mereka telah ditimpa berbagai cobaan dan kesusahan, mereka tetap berpegang teguh dan bertanggung jawab dalam mentablighkan agama. Sekeras apa pun kesusahan dan kesulitan yang mereka terima, mereka tetap berusaha menyebarkan agama dan hukum-hukum Islam.

Secara umum, kaum muslimin menyangka bahwa tugas dakwah dan tabligh hanyalah tugas alim ulama. Hal itu tidak benar. Setiap orang yang mengetahui kemungkaran yang terjadi di hadapannya, atau ia mampu mencegahnya, atau ia mampu memunculkan satu hal yang dapat menghentikannya, maka ia wajib berusaha menghentikan kemungkaran tersebut. Jika dalam hal ini hanya alim ulama yang berkewajiban, lalu disebabkan suatu kelemahan atau keadaan darurat sehingga ia tidak dapat melaksanakan tugasnya, atau usaha mereka belum memenuhi kewajiban, tentu kewajiban itu akan kembali ke pundak setiap muslim.

Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyatakan tentang pentingnya dakwah, tabligh, dan amar ma’ruf nahi mungkar dengan sangat gamblang. Masalah ini akan saya uraikan pada bab-bab selanjutnya. Dalam keadaan seperti ini, hanya dengan menumpukan tanggung jawab kepada para ulama atau membeberkan kekurangan-kekurangan mereka, seseorang tidak mungkin bebas dari tanggung jawab bertabligh. Karena maksud inilah, saya ingin menyeru kepada setiap muslim agar berusaha semampu mungkin meluangkan sebagian waktunya semata-mata untuk menunaikan tugas dakwah, tabligh, dan menjaga amalan Islam. Sebuah syair mengungkapkan:

Luangkan waktu sedapat mungkin

karena kita tidak mengetahui pasti

kapan hidup akan berakhir

Dan perlu diketahui, untuk kepentingan dakwah dan tabligh, seseorang tidak mesti menjadi ulama terlebih dulu. Siapa pun yang melihat kemungkaran terjadi di depan matanya, dan ia mampu menghentikannya, maka ia wajib menghentikannya. Dan bagi yang mengerti suatu permasalahan agama, ia mesti menyampaikannya kepada yang lain, siapa pun mereka.

Risalah ini secara ringkas saya bagi menjadi tujuh bab.

Muqaddimah

Ayat-Ayat Al-Quran Yang Menegaskan Kepentingan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Hadits-Hadits Rasulullah saw. Tentang Pentingnya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Peringatan Agar Memperbaiki Diri Sendiri

Pentingnya Memuliakan Sesama Muslim Dan Ancaman Bagi Yang Menghinanya

Pentingnya Ikhlas, Iman, Dan Ihtisab

Pentingnya Memuliakan Ulama

Pentingnya Bersahabat Dengan Para Shalihin Dan Menyertai Majelis Mereka

TAMBAHAN:

Kemunduran Umat Islam dan Cara Memperbaikinya

Beberapa Penyebab Kelalaian Kita

Beberapa Petunjuk Bagi Perbaikan Umat

Adab-Adab Bertabligh

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.